Infopubliknews.online, MANADO – Halal Bi Halal bukan sekadar seremonial atau rutinitas pasca Hari Raya Idul Fitri. Bagi warga Perumahan Relokasi Pandu Cerdas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, kegiatan ini mengandung makna filosofis yang dalam: sebagai sarana mempererat ikatan persaudaraan lintas agama, suku, dan budaya. Semangat itulah yang mewarnai pelaksanaan Halal Bi Halal yang digelar di Masjid Hijratul Fathonah, Minggu (12/04/2026).
Lokasi masjid ini memiliki keunikan tersendiri. Berdiri berjarak hanya sekitar 10 meter dari Gereja GMIM di lingkungan yang sama, tempat ibadah ini menjadi simbol hidupnya kerukunan di tengah masyarakat Desa Pandu. Berdampingannya dua tempat ibadah besar ini bukan menjadi batasan, melainkan bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan justru menjadi kekuatan pemersatu warga.

Dalam kesempatan tersebut, Imam Masjid Hijratul Fathonah (Darwan Ali Lahay S.pd) menyampaikan data bahwa saat ini tercatat sekitar 172 Kepala Keluarga (KK) yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Indonesia (KSRI) di lingkungan tersebut.
“Belum semuanya menetap di sini. Sebagian masih pulang ke tempat asal masing-masing, seperti dari Wonasa, Perkamil, dan lainnya. Tapi Alhamdulillah, setiap kali ada acara atau kegiatan di masjid, dukungan mereka selalu luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski jumlah jamaah yang hadir terkadang berubah-ubah, semangat toleransi yang terjalin sangat kuat. Warga sudah terbiasa mengatur waktu dan suasana agar ibadah di kedua tempat berjalan khidmat tanpa saling mengganggu.
“Kami saling mengerti dan terampil menempatkan niat. Misalnya saat jemaat gereja sedang beribadah, dan bertepatan dengan waktu sholat kami, kami akan kumandangkan adzan dengan tertib. Sebaliknya, saat mereka beribadah, kami pastikan menghargai ketenangan mereka. Toleransi kami di sini memang teruji kuat,” tegasnya.
Sesuai tema yang diusung dalam Halal Bi Halal tahun ini (Menjalin silahturahmi, mempererat persaudaraan, dan menyebarkan kasih dalam kebersamaan), suasana kebersamaan yang tercipta menjadi bukti bahwa di Manado, toleransi bukan sekadar kata, melainkan diterapkan dalam keseharian. Warga hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan bergotong royong demi kenyamanan bersama.
“Alhamdulillah, di sini toleransi itu sangat tinggi. Halal Bi Halal ini menjadi momen yang tepat untuk kami perkuat lagi rasa persaudaraan itu, bahwa kita semua adalah satu keluarga besar warga Manado,” pungkas Imam Masjid Hijratul Fathonah.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, meninggalkan kesan damai dan semangat persaudaraan yang kian kokoh di tengah keberagaman.
(Michael Rusly)


